untukmembina kerukunan antara umat dan antar-umat beragama dalam rangka membangun persatuan bangsa, atau mungkin juga karena faktor-faktor lainnya. Dengan terbukanya informasi dan komunikasi, juga dengan semakin lancarnya tranportasi antardaerah dan antarnegara, maka arus masuk keyakinan religius yang berbeda
Kerukunanumat beragama merupakan hal yang sangat penting dimana ada banyak sekali manfaat yang bisa didapat. Diantaranya: Mencegah timbulnya konflik yang mengatasnamakan agama Adanya perasaan damai dan aman dalam beribadah Meningkatnya toleransi beragama di Indonesia Mencegah adanya dominasi yang salah dari pemeluk agama mayoritas
Dasarhukum yang menjamin kebebasan beragama di Indonesia tertulis dalam UUD 1945 Pasal 28E ayat (1) yang berbunyi: " Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali."
LihatRPPUNDUH RPPSALIN TAUTAN RPP. memberi gabaran tentang manfaat mempelajari keragaman agama yang ada di indonesi, sehingga siswa diminta mencari tahu lebih lanjut dan menggali sumber informasi tentang keragaman umat beragama dilingkungan provinsi mereka msing - masing dan bagaimana antar umat beragama saling menjalin persatuan. Suka.
Setiapumat beragama hendaknya dapat memahami agamanya lebih baik, sehingga akan lebih baik pula bersikap terhadap orang yang berbeda agama. Persatuan di atas perbedaaan atau pluralitas hanya dapat tercapai jika masing- masing kelompok yang berbeda dapat saling berlapang dada. Manfaatnya pun untuk kehidupan diri kita sendiri.
Berikutadalah contoh sikap atas keragaman suku bangsa dan agama. 1. Menjaga Toleransi. Toleransi merupakan sikap tenggang rasa yang perlu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Toleransi adalah sikap yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan di tengah perbedaan yang begitu banyak.
Umatberagama bekerjasama dengan pemerintah dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Setiap pemeluk agama mempunyai kewajiban, hak, dan kedudukan yang sama dalam Negara dan pemerintahan. Adanya perlindungan hukum dalam melaksanakan kegiatan ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya yang berhubungan dengan eksistensi setiap agama.
DiIndonesia terdapat 6 agama yang di akui oleh negara yakni Islam, Kristen, Khatolik, Hindu, Budhha, Kong Hu Chu (konfusius). Oleh karena itu, masing-masing agama harus mengajarkan toleransi yang tinggi agar mendapat kerukunan yang tidak saling menjatuhkan antara umat beragama. Dalam keragaman inilah diperlukan toleransi bagi semua rakyat
Kemajemukanserta keberagaman tidak saja terlihat dari banyaknya suku, etnis, kebudayaan, namun juga terlihat pada kerukunan umat beragama. Kerukunan umat beragama merupakan suatu hubungan yang dilandasi oleh sikap toleransi, saling pengertian serta saling menghormati antar pemeluk agama agar bisa bekerjasama dalam hidup bermasyarakat.
Untukmewujudkan toleransi antar umat beragama di Indonesia setidaknya ada beberapa sikap dan tindakan yang perlu bersama-sama kita laksanakan yaitu, Pertama, mengembangkan sikap saling menghargai
RNzU. JAKARTA - Agama-agama di dunia mempunyai peranan penting dalam menciptakan perdamaian. Mereka memiliki ajaran luhur untuk menuntun umatnya agar selalu berbuat kebajikan, terutama dalam menciptakan kondusifitas hubungan antarmanusia. Hal tersebut disampaikan oleh Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz dalam dialog peradaban lintas agama Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa Atas Dasar Rahmat Kemanusiaan di Hotel Aryaduta, Jakarta, Sabtu 13/10.Menurut dia, perbedaan agama bukan alasan untuk saling tak menghormati antarmanusia. Sebagai umat beragama, Habib Umar mengaku punya tugas untuk mempersatukan manusia dan menjauhkan dari permu suhan. Dia menegaskan, tugas-tugas tersebut adalah kewajiban bagi setiap orang yang berakal. Dengan begitu, diyakini kestabilan kehidupan masyarakat akan terus terjaga. Apabila dilalaikan perkara ini maka justru akan menimbulkan kekacauan dan perpecahan yang dipengaruhi oleh rujukan- rujukan, dorongan-dorongan dan langkah yang diambil oleh orang yang ingin merusak persatuan kita, ujar dia. Habib Umar tidak meragukan dampak positif dari menjalankan kesepakatan dan pemikiran tentang pentingnya persatuan. Keamanan di tengah-tengah ma syarakat akan tercipta, sehingga mem bawa kebaikan kepada semuanya. Dan atas dasar ini akan berdiri hakikat salam dan ke damaian yang mana kita diajak dan dipanggil untuk menjalankan kedamaian tersebut di antara se mua umat manusia, kata Habib Umar. Habib Umar mengatakan, tidak dibernarkan apabila berbuat baik hanya berdasarkan la tar belakang agama. Allah menyatakan kepada Nabi Muhammad agar menjaga perdamaian dan tidak mengganggu umat selain Islam, terlebih bagi mereka yang mempunyai kecenderungan cinta perdamaian. Menurut Habib Umar, para pemuka agama sudah terang- terangan menyatakan bahwa bersepakat untuk menjaga hak-hak kemanusiaan serta memberikan hak mereka dengan sebenar-benarnya. Dia menjelaskan, orang yang men celakakan manusia lain, mes-kipun mengatasnamakan aga ma, kata Habib Umar, telah menjelekkan agamanya sendiri. Dia menilai, yang terjadi saat ini bukan tentang tidak adanya ajakan untuk berbuat baik kepada sesama manusia. Namun, yang menjadi permasalahan adalah praktik di lapangan dalam melaksanakan ajakan tersebut yang tidak dijalankan. Dan saya mengapresiasi apa yang disampaikan oleh pemuka agama yag selama di Indonesia tidak dijumpai gangguan atas nama agama, tutur dia. Habib Umar berpendapat bahwa salah satu faktor adanya permasalahan-permasalahan di dunia ini karena cacatnya batin seseorang. Menurut dia, problem masyarakat akarnya berasal dari nafsu mereka yang tak dapat dikendalikan. Oleh karena itu, apabila mampu mengendalika nafsunya, diyakini akan melahirkan banyak kebaikan. Kitab-kitab yang diturukan oleh Allah, lanjutnya, berisi materi mengajak manusia member- sihkan batin dari nafsu. Sehingga, kebaikan diharapkan menyebar kepada masyarakat dan beriman kepada Allah serta rasul-Nya. Dan tugas kita ini bagai mana mempratikkan isi kitab-kitab itu dari Taurat, Injil, Zabur, Quran, dan ajaran nabi kita praktikkan di dalam keadaan kita bagaimana menjaga hak tetangga sesama manusia melindungi setiap jiwa, kata Habib Umar. Sebagai umat Islam, menurut Habib Umar, wajib beriman kepada kitab-kitab Allah selain Alquran. Umat Islam juga diwajibkan menghormati setiap orang yang menjalankan isi dari kitab- kitab Allah tersebut. Habib Umar juga mengingatkan agar menjaga dan melindungi hak-hak tetangga dan lingkungan. Semua agama pun telah sepakat dengan pandangan tersebut. Rasululah pernah mengatakan bahwa mereka sesungguhnya tak beriman apabila membiarkan tetangganya terganggu keamanannya. Untuk itu, Habib Umar mengingat kan agar mengedepankan kepentingan masyarakat dari pada mengorbankan kepentingan umum tersebut hanya demi tujuan meraih kekuasaan. Jangan me mbiar kan masyarakat menjadi mangsa bagi orang yang haus kekuasaan. Dan bahkan setiap orang yang turut andil memprovokasi memancing perpecahan pada hakikatnya jiwanya gak akan damai, tenang sebagaimana dikatakan Allah, Habib Umar mengungkapkan. Habib Umar menyerukan agar setiap umat Islam berupaya mengajak manusia berubah kepada pribadi ihsan dan santun dan memberikan kebaikan kepada orang sekitar. Habib Umar juga mengajak agar menjauhi sikap anarkistis atas dasar keinginan politik karena hal tersebut memba hayakan bangsa dan masyarakat itu sendiri.
Laporan Bidpenum Puspen TNI, Kapten Inf Suwandi JAKARTA - Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang besar, bangsa yang menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Selain itu Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang plural memiliki beragam suku, etnik, budaya dan bahasa serta mempunyai enam agama yang resmi diakui oleh negara yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Melihat Indonesia yang masyarakatnya sangat beragam tersebut, kerukunan antar masyarakat terutama antar umat beragama menjadi salah satu hal yang sangat penting diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Kita ketahui bersama bahwa permusuhan yang dipicu agama merupakan salah satu penyebab utama permasalahan yang sangat krusial yang dapat membuat masyarakat di suatu negara terpecah belah, saling bermusuhan yang akhirnya berujung pada pertikaian yang berkepanjangan. Sudah banyak contoh negara-negara lain di dunia yang hancur akibat pertikaian terkait oleh isu agama yang tidak bisa ditangani dan diselesaikan dengan baik, antara lain seperti konflik antara Palestina dengan Israel yang hingga sekarang masih berlanjut, ISIS di Suriah dan diberbagai negara Arab lainnya, kelompok teroris yang mengatasnamakan agama dan yang baru-baru ini terjadi yaitu konflik Rohingya di Myanmar, serta masih banyak lagi konflik-konflik agama lainnya. Demikian pula di Indonesia, isu agama menjadi isu sentral yang menyebabkan terjadinya beberapa konflik. Seperti kejadian yang pernah dialami saudara-saudara kita yaitu konflik antar agama di kota Ambon Maluku yang terjadi pada tanggal 19 Januari 1999, selanjutnya kerusuhan di Poso Sulawesi Tengah yang merupakan contoh konflik agama yang berdampak cukup serius dan berlarut larut karena kurang cepatnya penanganan, Poso I terjadi antara 25-29 Desember 1998, Poso II terjadi antara 17-21 April 2000 serta Poso III terjadi antara 16 Mei hingga 15 Juni 2000. Dari konflik tersebut sampai sekarang tidak diketahui pasti seberapa besar korban dan kerugian yang diderita masyarakat, dan yang pasti kejadian tersebut menimbulkan trauma serta penderitaan yang mendalam bagi korban dan keluarganya. Contoh terbaru yang masih hangat dalam benak kita dan menjadi pemberitaan utama di media massa nasional yaitu penyerangan terhadap tokoh-tokoh agama di berbagai daerah. Walaupun itu belum tentu dilakukan atas nama agama, namun persepsi yang terbentuk di masyarakat kejadian tersebut merupakan upaya untuk membenturkan umat agama satu dengan yang lainnya. Apabila permasalahan tersebut tidak segera ditangani dengan cepat dan tuntas oleh aparat keamanan maka dikhawatirkan masyarakat bisa terprovokasi sehingga dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memecah belah bangsa Indonesia. Perlu juga menjadi perhatian kita bersama isu agama tersebut dikaitkan dengan Pilkada serentak 2018 dan pemilu legislatif maupun pemilihan presiden 2019. Kondisi tersebut tentunya dapat berpotensi meningkatkan suhu politik, menimbulkan ancaman dan konflik yang dapat mengkoyak kebhinekaan bangsa Indonesia. Kita berharap dalam gelaran pesta demokrasi tersebut tidak ada oknum partai politik memanfaatkan isu agama sebagai bagian dari kampanyenya, baik yang dilaksanakan secara terang-terangan maupun secara tertutup dengan menggunakan media sosial. Dalam konteks ini, hendaknya masyarakat dapat menyikapinya secara bijak, masyarakat harus bisa memilah-milah mana informasi yang benar dan mana yang tidak benar atau hoax, termasuk menolak ajakan partai politik yang menggunakan isu agama dalam menjaring dukungan demi kemenangan partainya, serta jangan mudah terprovokasi dengan berita-berita yang belum tentu kebenarannya. Untuk mengatasi permasalahan yang terkait dengan kerukunan antar umat beragama di Indonesia, diperlukan peran serta seluruh komponen masyarakat, tokoh agama yang terutama adalah peran serta pemerintah. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama ini, antara lain Kementerian Agama RI telah menyosialisasikan regulasi dan penguatan regulasi terkait Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan KKB. Kemenag juga sedang menyiapkan RUU Perlindungan Umat Beragama PUB dengan melakukan pengembangan kemitraan, penelitian, dan pendampingan, termasuk saat terjadi masalah pada pemeluk keyakinan di luar enam agama yang resmi diakui negara. Begitu juga dengan komitmen aparat keamanan terutama TNI untuk senantiasa menjaga kerukunan antar umat beragama di Indonesia, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, telah menegaskan komitmennya terhadap toleransi dan kerukunan antar umat beragama yang sesuai dengan semboyan bangsa Indonesia yaitu Bhineka Tunggal Ika, dengan memberikan pembekalan agama kepada prajurit TNI secara berkala. “Prajurit TNI selalu diberikan pemahaman tentang pentingnya pendidikan mental dan sepiritual sebagai landasan keimananan dalam menjalankan tugas pokok menjaga keutuhan NKRI,” ujar panglima TNI saat menerima tokoh agama di Cilangkap beberapa waktu yang lalu. Perbedaan agama yang ada di masyarakat Indonesia tidak boleh menjadi hambatan untuk mewujudkan kehidupan yang rukun dan damai. Kerukunan antar umat harus mengutamakan semangat kebersamaan, tetap saling menghormati persamaan hak dan kewajiban serta saling menghargai perbedaan dalam berkeyakinan yang dijamin oleh UUD 1945 Pasal 29 Tentang Kebebasan Beragama. Negara dalam hal ini menjamin dan melindungi kebebasan setiap warga negara untuk memeluk agama sesuai keyakinan dan kepercayaannya masing-masing. Banyak contoh betapa masyarakat Indonesia itu sangat menghormati perbedaan, penuh kasih sayang dan saling menghargai pemeluk agama satu dengan yang lain. Kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilaksanakan oleh masing-masing agama selama ini dapat dilaksanakan dengan aman dan lancar. Salah satunya adalah kegiatan aksi massa 212 di Jakarta yang diikuti oleh jutaan umat Islam yang sebelumnya diprediksi menimbulkan kerusuhan, namun dapat berjalan dengan tertib dan aman. Hal tersebut tidak lepas dari adanya sikap toleransi yang ditunjukkan oleh saudara-saudara kita yang beragama lain. Untuk mewujudkan toleransi antar umat beragama di Indonesia setidaknya ada beberapa sikap dan tindakan yang perlu bersama-sama kita laksanakan yaitu, Pertama, mengembangkan sikap saling menghargai dan menerima adanya perbedaan. Kedua, menghormati kesetaraan antara pemeluk agama satu dengan yang lainnya dan memahami bahwa semua memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara. Ketiga, sesama warga negara harus mempunyai keinginan untuk saling melindungi dan menjaga dengan tidak memandang agama yang dianut. Agama mayoritas tidak boleh semena-mena terhadap minoritas. Begitupun sebaliknya sehingga akan terwujud sikap saling tolong menolong, kerjasama dan gotong royong yang tulus untuk membangun demi kemajuan bangsa dan negara Indonesia tercinta. Keempat, dalam kehidupan berpolitik hendaknya elit politik tidak memanfaatkan isu agama untuk kepentingan kelompoknya, berikanlah program-program membangun yang dapat diterima oleh masyarakat. Kita sadari bahwa dengan terciptanya kerukunan antar umat beragama menjadi pilar utama bagi bangsa Indonesia dalam melaksanakan pembangunan, demi terciptanya masyarakat yang adil dan makmur, hidup rukun dan damai. Selain itu dengan kerukunan antar umat beragama diharapkan akan mampu melahirkan kesadaran diri bahwa pada dasarnya manusia memang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dengan beraneka ragam dan saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Perlu diketahui, bahwa sepanjang sejarah peradapan manusia di dunia kerukunan antar umat beragama merupakan penyumbang terbesar bagi terciptanya perdamaian di muka bumi. Akan tetapi karena pengetahuan dan kedewasaan sebagian masyarakat dalam memaknai toleransi umat beragama masih belum memadai, maka timbulah konflik-konflik antar manusia. Hal ini patut menjadi perhatian kita terutama para pemuka agama agar memberikan pemahaman dan tauladan yang baik kepada umatnya tentang pentingnya toleransi antar umat beragama. *
Pentingnya antarumat beragama menjalin persatuan agar terhindar konflik. Foto PixabayIndonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman budaya, suku, bahasa, hingga agama. Tidak dipungkiri, negara akan terpecah belah jika antarumat beragama tidak mampu menjalin persatuan dan resmi yang ada di Indonesia terdiri dari enam macam, yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Setiap warga negara pun dijamin kebebasannya dalam memeluk salah satu di antara agama hukum yang menjamin kebebasan beragama di Indonesia tertulis dalam UUD 1945 Pasal 28E ayat 1 yang berbunyi “Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.”Sikap Menghargai Perbedaan Dilakukan Untuk Menjalin Persatuan. Foto PixabayBagaimana antarumat beragama saling menjalin persatuan? Berikut sikap-sikap yang harus ditumbuhkan antarumat beragama yang dirangkum dari Jurnal Moderasi Beragama dalam Keragaman Indonesia karangan Agus Akhmadi 201945. 1. Sikap Menghormati dan MenghargaiWujud sikap menghormati dan menghargai sebenarnya sudah ditekankan secara konstitusi oleh negara lewat Pasal 28 UUD 1945. Salah satu ayat pasal tersebut berisikan tentang kebebasan warga untuk memeluk agama dan kepercayaannya itu, antar umat beragama juga harus menyadari bahwa setiap agama memiliki tata cara dan ketentuan dalam menjalankan ibadahnya tanpa merasa agamanya lebih unggul dibandingkan dengan yang lain. 2. Menjunjung Tinggi ToleransiToleransi antarumat beragama juga ditunjukkan dengan adanya hari raya besar keagamaan. Pemerintah sengaja menetapkan hari libur pada hari raya tersebut. Libur hari raya dimaksudkan agar umat beragama bisa fokus untuk menjalankan ibadahnya tanpa merasa terganggu dengan aktivitas lain. Selain itu, tujuan diliburkan pada saat hari raya agar antarumat beragama yang lainnya bisa ikut merasakan suka Menghindari Pemicu Terjadinya KonflikSalah satu cara termudah untuk menghindari pemicu adanya konflik adalah dengan tidak menjadi provaktor isu SARA yang berkembang di media keagaaman yang banyak terjadi di Indonesia umumnya dipicu adanya kontestasi antar kelompok agama dalam meraih dukungan umat yang tidak dilandasi sikap toleransi. Masing-masing dari mereka menggunakan kekuatannya agar menang sehingga memicu terjadinya karena itu, penting untuk menanamkan sikap keberagaman antarumat beragama di sebuah negara majemuk agar tidak menimbulkan konflik yang meresahkan.
Kerukunan umat beragama identik dengan istilah toleransi. Istilah toleransi menunjukkan pada arti saling memahami, saling mengerti, dan saling membuka diri dalam bingkai persaudaraan. Bila pemaknaan ini dijadikan pegangan, maka ”toleransi” dan “kerukunan” adalah sesuatu yang ideal dan didambakan oleh masyarakat manusia. Dalam konteks ke-Indonesiaan, kerukunan beragama berarti kebersamaan antara umat beragama dengan pemerintah dalam rangka suksesnya pembangunan nasional dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ajaran Islam mengungkapkan hidup damai, rukun dan toleran. Kerukunan umat beragama adalah kondisi dimana antar umat beragama dapat saling menerima, saling menghormati keyakinan masing-masing, saling tolong menolong, dan bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam konteks ke-Indonesiaan, kerukunan beragama berarti kebersamaan antara umat beragama dengan pemerintah dalam rangka suksesnya pembangunan nasional dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karakterisasi nilai toleransi beragama merupakan salah satu tugas yang diemban PKN yang diberikan pada tiap jenjang dan jalur pendidikan. Pluralitas keberagaman merupakan suatu realitas yang tidak bisa ditolak atau bahkan dihilangkan keberadaannya. Kenyataan ini membawa pada suatu konsekuensi logis dalam keberagaman, yaitu menanamkan nilai toleransi pada diri masing-masing agar dapat hidup berdampingan dalam perbedaan keyakinan, justru perbedaan inilah yang menjadi potensi dasar dalam membangun pola kehidupan beragama. Supaya kerukunan dan toleransi antar umat beragama bisa menjadi alat pemersatu bangsa, maka kemajemukan harus dikelola dengan baik dan benar, maka diperlukan cara yang efektif yaitu dialog antar umat beragama untuk permasalahan yang mengganjal antar masing-masing kelompok umat beragama. Karena mungkin selama ini konflik yang timbul antar umat beragama terjadi karena terputusnya jalinan informasi yang benar di antara pemeluk agama dari satu pihak ke pihak lain sehingga timbul prasangka-prasangka negatif. To read the file of this research, you can request a copy directly from the has not been able to resolve any citations for this has not been able to resolve any references for this publication.
bagaimana antar umat beragama saling menjalin persatuan